Kembali ke Berita
technical 1 year ago Alifah Fauza Riyadi

Label Nutrisi Kunci Kepercayaan dan Loyalitas Pelanggan

Label Nutrisi Kunci Kepercayaan dan Loyalitas Pelanggan

Mobilitas masyarakat semakin berkembang dan maju seiring dengan terjadinya perubahan lingkungan strategi dalam pengembangan bisnis yang menyebabkan perubahan gaya hidup konsumen termasuk perubahan pola konsumsi pangan.

Berkembangnya pangan yang sangat beragam, menyebabkan konsumen semakin memprioritaskan makanan yang mendukung tujuan kesehatan mereka.

Dengan hal tersebut, brand pun berlomba-lomba menciptakan makanan sehat dengan label tanpa gula, rendah lemak, vegan, clean label, atau organik.

Tapi apakah brand yang mengklaim “sehat” benar-benar sehat?

Label Nutrisi = Bahasa Pangan

Label nutrisi merupakan "bahasa pangan" yang berarti cara produsen menyampaikan informasi gizi kepada konsumen.

Seperti bahasa sehari-hari, semakin jelas strukturnya, semakin mudah dipahami dan digunakan oleh semua kalangan.

Label nutrisi berisi informasi tentang kalori, ukuran porsi dan nilai harian dari beberapa makronutrien, vitamin dan mineral seperti lemak, karbohidrat, dan kalsium.

Label nutrisi mempunyai peran penting sebagai pedoman untuk pola makanan yang lebih baik dan gaya hidup yang lebih sehat.

Dalam sebuah studi dikatakan bahwa jika masyarakat peduli terhadap label nutrisi akan memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan mereka.

Namun, hati-hati juga terhadap fenomena “health halo”, saat satu klaim menyembunyikan lainnya.

Penelitian di Australia menunjukkan banyak camilan “sehat” menggunakan buzzwords dan klaim tanpa hubungan langsung dengan profil nutrisi sebenarnya, ada juga produsen yang menyoroti satu nutrisi dan mengesampingkan nutrisi lain misalnya “low fat” tapi tinggi gula.

Pengetahuan kesehatan dan label nutrisi menjadi sangat penting untuk dipelajari karena pengetahuan label nutrisi mempengaruhi tingkat kesehatan konsumen yang dimana status kesehatan konsumen dapat ditentukan dengan konsumen peduli akan kesehatan diri mereka.

Label nutrisi harus jadi bahasa yang bisa dipahami semua pihak, produsen menyampaikan, konsumen menangkap, dan keputusan membeli berdasarkan fakta.

Dengan literasi yang baik dan format label yang strategis, ekosistem pangan akan menjadi lebih sehat, transparan, dan terpercaya.

Makanan sehat sebenarnya bisa jadi realita, tapi harus jadi konsumen pintar.

Jangan hanya percaya kata “sehat” di kemasan tapi juga perlu cek label, pahami komposisi, jangan ragu pilih produk transparan dan pastikan ada bukti hasil uji lab.

Sebagai produsen atau UMKM: lakukan pengujian cukup di laboratorium uji pangan terpercaya.

Produsen yang adaptif dan transparan akan menarik konsumen modern, sementara konsumen yang kritis akan memilih produk yang benar-benar sehat.

Biar Makanan Viral Kamu Gak Cuma Hype: Uji Mutu Dulu di Lab.