Mengenal Perisa Sintetik

6 months ago By : Alifah Fauza Riyadi

Pernahkah kamu menikmati camilan dengan rasa stroberi, vanila, atau jeruk, tapi saat membaca labelnya, kamu tak menemukan satupun buah asli di dalamnya? Itulah peran perisa sintetik, senyawa yang diciptakan untuk meniru rasa alami, namun tidak berasal dari bahan alami.

Meski terdengar “buatan,” perisa sintetik tidak otomatis berbahaya, selama digunakan dengan benar dan sesuai standar.

Perisa sintetik adalah bahan tambahan pangan yang dibuat melalui proses kimia untuk meniru aroma dan rasa alami dari bahan-bahan seperti buah, rempah, atau tanaman lain.

Berbeda dengan perisa alami yang diekstrak langsung dari bahan asli, perisa buatan dibuat melalui proses sintesis kimiawi yang menggabungkan berbagai molekul penyusun rasa.

Ada beberapa alasan utama mengapa perisa sintetik lebih banyak digunakan:

●      Biaya lebih efisien: Memperoleh rasa dari buah asli seringkali mahal dan tidak selalu stabil.

●      Konsistensi rasa: Perisa sintetik menjaga rasa produk agar tetap sama dari waktu ke waktu.

●      Ketersediaan bahan baku: Tidak tergantung musim atau wilayah tertentu, perisa sintetik dapat diproduksi kapan saja.

●      Keamanan: Perisa sintetik dapat dibuat bebas dari kontaminan dan mikroorganisme.

Perisa sintetik memungkinkan produsen untuk mengontrol rasa dengan lebih konsisten dan memproduksi rasa yang sulit atau mahal didapatkan dari sumber alami.

Dari Mana Perisa Sintetik Dibuat?

Perisa sintetik dibuat dari bahan kimia dasar seperti alkohol, aldehida, ester, dan keton yang diolah secara kimiawi menjadi senyawa yang memberikan rasa spesifik. Contoh perisa sintetik populer misalnya, senyawa ethyl maltol sering digunakan untuk memberikan rasa manis dan aroma karamel, sedangkan vanillin sintetis adalah salah satu perisa vanila buatan yang paling umum dipakai. Beberapa tahapan proses pembuatan perisa sintetik secara umum sebagai berikut:

1.     Identifikasi senyawa rasa alami: Ilmuwan mengisolasi senyawa-senyawa yang memberikan rasa khas pada bahan alami.

2.     Sintesis kimia: Senyawa yang telah diidentifikasi kemudian disintesis secara kimia dengan cara menggabungkan bahan kimia dasar.

3.     Formulasi dan pengujian: Campuran perisa dibuat dan diuji secara sensorik untuk memastikan rasa dan aroma mendekati aslinya.

4.    Pengemasan dan distribusi: Perisa siap digunakan dalam berbagai produk pangan.

Badan pengawas pangan seperti FDA (AS), EFSA (Eropa), dan BPOM (Indonesia) telah menetapkan standar ketat untuk perisa sintetik. Semua perisa harus melalui uji toksisitas dan keamanan sebelum diperbolehkan digunakan dalam makanan. Selama perisa sintetik digunakan sesuai regulasi, produk tetap aman dikonsumsi. Justru yang berbahaya adalah jika digunakan secara berlebihan, atau tidak melalui pengujian yang valid.

Walaupun bukan berasal dari buah asli, perisa sintetik adalah hasil inovasi ilmiah yang memungkinkan kita menikmati berbagai rasa lezat dan konsisten. Perisa sintetik aman dikonsumsi jika sesuai regulasi dan berperan penting dalam perkembangan industri pangan modern.


Terbaru

...
2 weeks ago

Makanan Kaleng dan Risiko Timah: Panduan Keamanan Pangan bagi Konsumen

Makanan kaleng seperti buah kaleng, ikan sarden, dan susu kental manis menjadi pilihan praktis bagi ...

Selengkapnya
Information
...
3 weeks ago

Cara Mudah Mencegah Anemia Defisiensi Besi melalui Asupan Zat Besi Harian

Mudah merasa lelah, pusing, dan sulit berkonsentrasi sering kali dianggap sebagai dampak aktivitas p...

Selengkapnya
Information
...
2 months ago

Roti Tahan Lama Hingga Sebulan: Bahaya Jamur, Ochratoxin A, dan Peran Kalsium Propionat

Siapa sih yang tidak suka roti? Aromanya wangi, teksturnya lembut, dan praktis untuk sarapan atau se...

Selengkapnya
Information
...
2 months ago

Bagaimana Dapur Kita Menjadi Kunci Keberlanjutan Bumi?

Ketika kita membicarakan keberlanjutan pangan, pikiran sering kali melayang jauh ke ladang-ladang lu...

Selengkapnya
Information
...
3 months ago

Hati-hati! Makanan Favoritmu Bisa Mengandung Formalin

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa beberapa bahan makanan, seperti tahu, ikan segar, atau mie bas...

Selengkapnya
Information
...
3 months ago

Amankah Nasi di Meja Makan Anda? Mengenal Bahaya Kadmium dan Risikonya

Semangkuk nasi putih hangat seolah menjadi jaminan ketenangan perut dan sumber energi yang tak terga...

Selengkapnya
Information
...
3 months ago

Panduan Aman Konsumsi Ikan: Cara Cerdas Memilih Ikan Rendah Merkuri

Ikan sering disebut sebagai superfood dari lautan, dan julukan itu memang pantas disandangnya. Sebag...

Selengkapnya
Information
...
3 months ago

Kawan atau Lawan? Membongkar Mitos dan Mengenal Jenis Lemak di Piring Anda

Ketika kata "lemak" disebut dalam percakapan tentang makanan, seringkali yang terbayang adalah stigm...

Selengkapnya
Information
...
4 months ago

Pengemasan Vakum vs Konvensional: Strategi Jitu Menjaga Kesegaran Makanan Berminyak Lebih Lama

Siapa tak suka keripik renyah atau gorengan gurih? Makanan berminyak adalah favorit banyak orang, na...

Selengkapnya
technical
...
4 months ago

Rahasia Umur Simpan Makanan: Cara Menjaga Daya Tahan dan Kualitasnya

​Apa itu Umur Simpan Makanan? Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa ada makanan yang bisa bertahan...

Selengkapnya
Information
...
4 months ago

Permen LH No. 11 Tahun 2025: Panduan Lengkap Baku Mutu & Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah Domestik

Ketahui aturan terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup tentang baku mutu air limbah domestik dan s...

Selengkapnya
technical
...
4 months ago

Residu Pestisida pada Buah dan Sayuran: Ancaman Tersembunyi bagi Keamanan Pangan

Dalam era pertanian modern, pestisida berperan penting untuk melindungi tanaman dari serangan hama d...

Selengkapnya
Information
...
5 months ago

Organik Dalam Makanan : Mengenal Istilah Makanan Organik Dan Non-Organik

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah organik semakin sering muncul di dunia makanan dan gaya hidup...

Selengkapnya
technical
...
5 months ago

Kapan Waktu Terbaik Minum Teh Hijau ? Ini Analisisnya Berdasarkan Siklus Metabolisme Tubuh

Kapan sebenarnya waktu terbaik untuk menikmati secangkir teh hijau agar manfaatnya dapat diserap sec...

Selengkapnya
technical