Kasus KLB Pangan: Mengapa Masih Banyak Keracunan Makanan?

7 months ago By : Alifah Fauza Riyadi

Makanan merupakan salah satu sumber penularan penyakit.

Pangan merupakan sesuatu dari sumber hayati maupun air baik diolah atau tidak diolah untuk konsumsi manusia.

Konsumsi pangan yang mengandung cemaran agen infeksius atau patogen dapat mengakibatkan penyakit tertentu (Foodborne Disease).

Secara global, WHO memperkirakan terdapat 31 agen berbahaya (termasuk virus, bakteri, parasit, toksin dan kimia) penyebab 600 juta kesakitan dan 420.000 kematian.

Beberapa kondisi yang mendasarinya adalah penggunaan air dalam pembersihan dan pemrosesan makanan tidak aman, proses produksi makanan yang buruk, penyimpanan yang tidak memadai, dan pengelolaan makanan yang kurang baik.

Gejala yang timbul akibat Foodborne Disease dapat mengakibatkan keracunan pangan yang serius.

Gejala klinis yang terjadi dapat berupa gejala ringan seperti mual, muntah, sakit perut, sakit kepala, diare, dehidrasi, dan lemas, hingga gejala berat yang dapat mengakibatkan kematian.

Cemaran Mikroba Penyebab Keracunan Pangan 

Kejadian Luar Biasa (KLB) atau Keracunan Pangan (KP) merupakan kejadian saat dua orang atau lebih menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah mengonsumsi pangan yang terbukti sebagai sumber keracunan berdasarkan epidemiologinya.

Kasus KLB KP sulit dicegah dikarenakan adanya perbedaan karakteristik dari setiap agen mikroba, sehingga diperlukan antisipasi maupun upaya penanggulangan yang spesifik agar angka kesakitan dan kematian KLB KP dapat diturunkan.

Beberapa bekteri utama penyebab KLB KP di antaranya adalah Staphylococus aureus, Bacillus cereus, Salmonella (spp.,Escherichia coli dan Clostridium spp).

Pemerintah perlu melakukan peningkatan pengawasan dan pengelolaan pangan dengan memerhatikan higiene dan sanitasi sesuai standar keamanan pangan yang telah ditetapkan dan peningkatan pengetahuan masyarakat dan tentang cara pengelolaan pangan yang benar untuk meningkatkan keamanan pangan.

Selain itu, upaya lain yang dapat dilakukan juga yaitu meningkatkan pengetahuan terkait bakteri-bakteri utama penyebab KLB KP berdasarkan data epidemiologi yang tepat dan lengkap, sehingga masyarakat dapat menjadi lebih peka dalam mengolah, memilih, dan mengonsumsi pangan yang aman.

Indonesia masih menghadapi tantangan besar terkait KLB keracunan makanan, terutama karena faktor bakteri patogen dominan, ketidaktepatan hygiene food handler, dan implementasi regulasi yang belum optimal.

Di sinilah peran vital lab uji pangan untuk memberi solusi melalui deteksi akurat, audit kebersihan, pelatihan, dan strategi promosi berbasis data, menjadikan pangan lebih aman dan memperkuat kepercayaan pasar.


Referensi Jurnal : Apriliansyah, M., Ade Z. dan Dwie A. 2022. “Bakteri Utama Penyebab Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan”. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia, September 2022, Vol. 11, No. 3, hlm 239-255.


Terbaru

...
2 weeks ago

Makanan Kaleng dan Risiko Timah: Panduan Keamanan Pangan bagi Konsumen

Makanan kaleng seperti buah kaleng, ikan sarden, dan susu kental manis menjadi pilihan praktis bagi ...

Selengkapnya
Information
...
3 weeks ago

Cara Mudah Mencegah Anemia Defisiensi Besi melalui Asupan Zat Besi Harian

Mudah merasa lelah, pusing, dan sulit berkonsentrasi sering kali dianggap sebagai dampak aktivitas p...

Selengkapnya
Information
...
2 months ago

Roti Tahan Lama Hingga Sebulan: Bahaya Jamur, Ochratoxin A, dan Peran Kalsium Propionat

Siapa sih yang tidak suka roti? Aromanya wangi, teksturnya lembut, dan praktis untuk sarapan atau se...

Selengkapnya
Information
...
2 months ago

Bagaimana Dapur Kita Menjadi Kunci Keberlanjutan Bumi?

Ketika kita membicarakan keberlanjutan pangan, pikiran sering kali melayang jauh ke ladang-ladang lu...

Selengkapnya
Information
...
3 months ago

Hati-hati! Makanan Favoritmu Bisa Mengandung Formalin

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa beberapa bahan makanan, seperti tahu, ikan segar, atau mie bas...

Selengkapnya
Information
...
3 months ago

Amankah Nasi di Meja Makan Anda? Mengenal Bahaya Kadmium dan Risikonya

Semangkuk nasi putih hangat seolah menjadi jaminan ketenangan perut dan sumber energi yang tak terga...

Selengkapnya
Information
...
3 months ago

Panduan Aman Konsumsi Ikan: Cara Cerdas Memilih Ikan Rendah Merkuri

Ikan sering disebut sebagai superfood dari lautan, dan julukan itu memang pantas disandangnya. Sebag...

Selengkapnya
Information
...
3 months ago

Kawan atau Lawan? Membongkar Mitos dan Mengenal Jenis Lemak di Piring Anda

Ketika kata "lemak" disebut dalam percakapan tentang makanan, seringkali yang terbayang adalah stigm...

Selengkapnya
Information
...
4 months ago

Pengemasan Vakum vs Konvensional: Strategi Jitu Menjaga Kesegaran Makanan Berminyak Lebih Lama

Siapa tak suka keripik renyah atau gorengan gurih? Makanan berminyak adalah favorit banyak orang, na...

Selengkapnya
technical
...
4 months ago

Rahasia Umur Simpan Makanan: Cara Menjaga Daya Tahan dan Kualitasnya

​Apa itu Umur Simpan Makanan? Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa ada makanan yang bisa bertahan...

Selengkapnya
Information
...
4 months ago

Permen LH No. 11 Tahun 2025: Panduan Lengkap Baku Mutu & Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah Domestik

Ketahui aturan terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup tentang baku mutu air limbah domestik dan s...

Selengkapnya
technical
...
4 months ago

Residu Pestisida pada Buah dan Sayuran: Ancaman Tersembunyi bagi Keamanan Pangan

Dalam era pertanian modern, pestisida berperan penting untuk melindungi tanaman dari serangan hama d...

Selengkapnya
Information
...
5 months ago

Organik Dalam Makanan : Mengenal Istilah Makanan Organik Dan Non-Organik

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah organik semakin sering muncul di dunia makanan dan gaya hidup...

Selengkapnya
technical
...
5 months ago

Kapan Waktu Terbaik Minum Teh Hijau ? Ini Analisisnya Berdasarkan Siklus Metabolisme Tubuh

Kapan sebenarnya waktu terbaik untuk menikmati secangkir teh hijau agar manfaatnya dapat diserap sec...

Selengkapnya
technical